Karib & Kerabat BLIPfest,
Paling pertama, mari bicara soal latar belakang. Ide untuk membikin festival ini diawali oleh gejala makin maraknya minat terhadap fotografi. Bukan saja dengan meningkatnya jumlah orang—terutama anak muda—yang kemana-mana menenteng kamera, tumbuhnya klub-klub fotografi di banyak penjuru, tapi juga tampak lewat antusiasnya masyarakat umum mengabadikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya—utamanya menggunakan camera phone. Nah, fenomena ponsel berkamera nan gempita ini menarik perhatian kami hingga berujung memunculkan inspirasi untuk menyelenggarakan lomba foto menggunakan media yang sedang naik daun ini: Warisan Budayaku.
Sudah begitu, tema yang dipilih merujuk pada budaya ya karena yang namanya orang Indonesia itu sehari-harinya amat lekat lagi kaya dengan budaya. Kanan, kiri, atas, bawah, samping, depan, belakang, berani garansi solid sekali merefleksikan eksotika sebuah kultur. Katakan semisal seseorang diminta memotret sesuatu yang berkaitan dengan budaya dalam waktu cepat & segera, dia tinggal keluar sejengkal dari rumahnya, blip situ, blip sini, blip sana, sudah, beres. Segampang itu.
Kedua, tentang kuantitas kontestan. Sejujurnya, kami agak nyap-nyap juga dengan rendahnya sambutan di hari-hari permulaan perlombaan. Sempat pula kami dibikin bertanya-tanya: wong faktanya hampir tiap ponsel kelas menengah dilengkapi fasilitas kamera + kawan, karib & kerabat di sekeliling kita jelas-jelas doyan sekali merekam kejadian sekecil apa pun, kapan pun, di mana pun; lah, kenapa kok why respons terhadap Warisan Budayaku agak adem-ayem?
Ternyata setelah kami lakukan observasi mini, ada 2 kendala maksi:
1. Pemilihan bulan yang kurang tepat
Bulan Desember adalah bulan yang sibuk. Terlalu banyak hal yang harus dilakoni. Publik sulit fokus ke hal-hal bukan primer.
2. Jangka waktu promosi yang kelewat pendek & kurang luas
Gembar-gembor tentang event ini memang, harus diakui, gaungnya sedikit melempem pada saat start. Bahkan kolega dekat malah banyak yang bengong melongo ketika kami-kami ini berapi-api bicara Warisan Budayaku. Mereka bingung: “Huh, sedang bicara apa kalian ini…?” Benar, para rekan yang notabene memiliki ponsel berkamera itu berebutan protes pula mengatakan bahwa promonya kurang kenceng, disamping mengungkapkan ketertarikan mereka untuk turut berpartisipasi—lengkap dengan janji akan menyebarkan info soal adanya lomba yang duhai sebegini enteng (maksudnya praktis, tak perlu repot-repot, kalau melihat objek berbau budaya tinggal jepret lalu kirim ke panitia via surat elektronik. Quick. Simple. No-hassle).
Berpijak dari dua pasal tersebut, solusinya langsung bisa kami tentukan, yaitu:
1. Perpanjang rentang waktu festival
Penutupan yang tadinya dijadwalkan berakhir pada 24 Desember, dilonggarkan ke 24 Januari 2010. Ada waktu bernafas sebulan lagi bagi publik.
2. Promo tambah dihisteriskan
Tim BLIPfest yang cuma segelintir ini: Rio, Ayip, Marlowe, Kayun, saya, serta Sandra yang baru belakangan bergabung; lalu salto-koprol-kayang berjuang mendistribusikan berita soal Warisan Budayaku agar terdengar hingga ke daerah rural, pelosok paling terpencil di ujung Nusantara sekali pun. Segala media difungsikan: surat elektronik (ini yang paling dominan), SMS, menyablon kaos, mencetak brosur, word of mouth, sampai pendekatan personal antar teman yang cenderung ofensif, sengit memaksa, pekat intimidasi, agar mereka bergabung mengirimkan karyanya. (Catatan: info yang disebut paling akhir adalah fiktif belaka alias semata bercanda, hiks).
Bersakit-sakit dahulu berenang-renang kemudian, jerih payah ini terbayarkan di hari paling penghujung: 89 peserta terkumpulkan, dari bineka daerah di Indonesia, Bali sampai Aceh; serta 250+ foto masuk ke meja redaksi. Gigantik melampaui target yang kami canangkan, malah. Yay!
Bagaimana dengan mutu karya para peserta? Well, kualitas tentu saja penting. Namun bukan sisi paling adiluhung. Simak “wahyu” yang disabdakan oleh Rio Helmi, jenjang tertinggi di hierarki BLIPfest, beberapa waktu silam:
There is no perfect camera, there is no perfect lens, no perfect technique. There is only the perfect moment, and the perfect heart for it
Terjemahan bebasnya, walau pun kamera ponsel yang anda gunakan bukan dari kaliber tercanggih, jangan spontan pingsan harapan. Sudut penilaian diambil dari banyak segi. Tidak semata hasil foto yang cling, terang benderang, merupakan jaminan meraih gelar juara. Ada aspek-aspek estetika lain yang jadi acuan Dewan Juri Warisan Budayaku. Tenang, broer. Antar sesama Dewan Juri akan bertarung argumen seberingas mungkin agar nantinya sanggup menerbitkan pemenang terbaik dan bebas KKN.
Dan sebelum masuk ke daftar lengkap para peserta Warisan Budayaku, kembali kami pilih secara acak masing-masing satu foto dari para partisipan yang baru bergabung di hari paling akhir pengiriman karya*:
Berikut nama-namanya, tersusun menurut abjad:
01. A. A. Made Sulastri
02. A. A. Bagus Mahendra
03. Achmad Ghufron
04. Agus Ngurah Arya Putraka
05. Agus Sutedja
06. Ahmad Afandi
07. Almahi Enji Sakanata
08. Amir Sidharta
09. Andrie Eka Priyanti
10. Anita Lusiya Dewi
11. Anom Manik Agung
12. Arya Aji Aditya
13. Bagus Yuyud Nurvawitra
14. Beta Pramudya Darmawan
15. Bety Dian Agustin
16. Desy Ainur Rizki Amirawati
17. Dikdik Andhika Ramdhan
18. Dini Rudini
19. Dondik Robini
20. Dyah Novita Nadianti
21. Edi Haryono
22. Edison Mansur
23. Edwine Pramiyanti
24. Eko Wicaksono
25. Elin Septianingsih
26. Fajar Abdillah
27. Fathul Arief
28. Fransiskus Parulian
29. Gery Sulaksono
30. Hans Dominggo
31. Hasan Sakri Ghozali
32. I Gede Dalem Suardita
33. I Gede Supartha Hendrawan
34. I Gusti Ngurah A.L. Indranatha
35. I Ketut Raka Bujangga
36. I Komang Andika Darmawan
37. I Made Adi Dharmawan
38. I Wayan Nadiarta
39. I.A. Diandra Sawitri
40. Ilham Maggri
41. Imam Rinaldy
42. Inda Nugraha Hidayat
43. Indah Purnama Sari
44. Kadek Artayasa
45. Kadek Raditya
46. Ketut Wiyasa
47. Khabib Khumaini
48. Kurniawan Surya Suminar
49. Lidyah Supit
50. Linawati
51. Linda Pibriyani
52. Linda Wahyu Setyaningrum
53. Luga Lopo
54. Made Sudama
55. Made Widnyana Sudibya
56. Mario Adi Prasetyo
57. Miko Bismo
58. Muhammad Ashari
59. Muhlasin
60. Muthia Yulando Putri
61. Nadya Esvandiary
62. Naralita Kusuma Noviyani
63. Navynia Mutiara Jelita
64. Ni Nyoman Nadi
65. Nice Fajriani a.k.a. Lassie Fitria
66. Novia Endah Saputri
67. Pande Kadek Heryana Saputra
68. Pandu Prastha
69. Putu Bagus Anggaraditya
70. Rendy Febrianto
71. Rido Imam Ashadi
72. Rizky M harits gazza
73. Saikul Amri
74. Sang Ayu Made Wijaya Laksmi Putra
75. Santy Theresia Sinambela
76. Stanlie Andika
77. Suskariyanto
78. Syafi’udin
79. Teungku Helmi
80. Tomy Purnomo Sidi
81. Trisari Nastiti
82. Triyas Dhana Saputra
83. Venanta Enggar
84. Winda Mustari
85. Yenni Ramadhani Harahap
86. Yudi Karnaedi
87. Yuliana Rauf
88. Zakaria Falgunadi
89. Zikra Shilviana
Bagi kontestan yang namanya luput disebut, mohon kontak Rudolf Dethu. Oh, mengenai polling SMS, akan diumumkan gono-gininya dalam waktu dekat. Mengenai ragam hadiah serta berita teknis lainnya silakan klik di sini.
Hey, teruslah berkreasi!
*Pemilihan foto adalah semata etalase, tidak berkaitan dengan gelar juara atau raihan penghargaan ke depannya
{ 7 comments… read them below or add one }
mas rudolf . ko atas nma Diandra Sawitri tdak ada ya ?
Lah, pas daftar anda kan memakai nama lengkap: I.A. Diandra Sawitri kan? Coba deh cek, ada kok, non.
Keep Blippin’
mas dethu…
nominasinya belum ya?
penasaran saya dibuatnya.
ga’ ngarep sih, tapi biar ga’ jadi takabbur. itung1 perdana saya ikut2 kontes macam beginian…
maklum mas, newby…
duh….kok aku kuper apa gaptek hya??? masa onlen tiap hari…taunya ini lomba baru sekarang….hwwwaaaaaa….nyesel….
sebelumnya, saya permisi tanya, kok knpa saya rata-rata fotonya itu bernuansa Bali, apakah bernuansa wajib atau mayoritas org Bali yg mengikuti acara ini ? yang kedua, pengumuman tgl 1 Februari itu (info nominator) pukul 24.00 WIB/WIT atau 12.00 WIB/WITA atau molor ?
Arya, banyaknya peserta yang berasal dari Bali dan mengambil objek yang berbau Bali bisa jadi karena mereka memang berdomisili di Bali. Pusat penyelenggaraan BLIPfest sendiri memang kebetulan di Bali jadi gaungnya mungkin paling kuat di Bali. Juga jika anda teliti membaca syarat-syarat lomba, kami tidak sedikit pun menyebutkan adanya pembatasan bahwa objek fotonya harus bertema Bali. Lagi, jika anda lebih teliti menyimak gono-gini persyaratan lomba, nama-nama pemenang baru akan diumumkan pada 14 Februari 2010, bukan 1 Februari. Tolong ulang lagi baca dengan baik + konsentrasi penuh ya, Arya.
Keep Blippin’
Oke oke !